Profile Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki

I. Latar Belakang

Era globalisasi dewasa ini dan di masa datang sedang dan akan mempengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat muslim Indonesia umumnya, atau pendidikan Islam, termasuk pondok pesantren khususnya. Bahwa masyarakat muslim tidak bisa menghindarkan diri dari proses globalisasi tersebut, apalagi jika ingin survive dan berjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif di masa kini dan masa depan.
Catatan sejarah menunjukkan, bahwa pondok pesantren disamping mencetak kader ulama’ juga banyak melahirkan pemimpin masyarakat dan bangsa, banyak pondok pesantren mejadi harum namanya karena banyak par alumninya yang menjadi pemimpin bangsa. Sebagai sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pondok pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memperbaikki mental bangsa, dan menjadikan bangsa bermartabat.
Dilihat dari tuntutan internal dan tantangan ekternal global, maka keunggulan- keunggulan yang mutlak dimiliki bangsa dan Negara Indonesia adalah penguasaan atas sains dan teknologi dan keunggulan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Penguasaan sains dan teknologi, sebagaimana terlihat dalam pengalaman banyak Negara seperti Amirika Serikat, Jepang, Jerman dan sebagainya, menunjukkan bahwa sains-teknologi merupakan salah satu factor terpenting yang menghantarkan Negara-negara tersebut kepada kemajuan.
Menyadari akan tanggung jawab yang besar pada masa mendatang, santri seharusnya membekali diri dengan kegiatan yang mendukung berhasilnya amar ma’ruf nahi munkar. Sebagai calon pemimpin bangsa, tokoh umat dan ulama, santri perlu menyiapkan diri dengan membekali berbagai pengetahuan, pengalaman dalam berorganisasi dan kematangan mental. Pengalaman organisasi sangat berperan dalam membentuk jiwa kepemimpinan seseorang. Kenyataan membuktikan bahawa pada umumnya para tokoh masyarakat, anggota legeslatif, pejabat pemerintah, bahkan para pengusaha saat ini adalah mereka yang selama masa mudanya dulu aktif dalam kegiatan organisasi, baik ketika di sekolah, di pesantren ataupun ketika menjadi mahasiswa.
Sesuai dengan tujuan pembangunan Indonesia untuk mewujudkan manusia yang sejahtera lahir batin, maka penguasaan atas sains dan teknologi memerlukan perspektif etis dan panduan moral. Sebab, seperti juga terlihat dalam pengalaman Negara-negara maju, kemajuan dan penguasaan atas sains-teknologi yang berlangsung tanpa perspektif etis dan bimbingan moral akan menimbulkan berbagai konsekuensi dan dampak negatif, yang membuat manusia semakin jauh dari axis, dari pusat eksistensial-spritualnya. Ini pada gilirannya menciptakan masalah-masalah kemanusiaan yang cukup berat, diantaranya krisis nilai-nilai etis, dislokasi, alienasi, kekosongan nilai-nilai rohaniah, dan sebagainya.
Peradaban masyarakat yang selalu berkembang, menurut adanya kemampuan yang lebih dari warga atau anggota masyarakatnya. Sebagai mahluk Allah yang memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, para santri harus menyiapakan diri sebaik mungkin, sehingga dalam hidupnya mampu menebarkan rahmat bagi mahluk seluruh alam ini.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين ( الأنبياء 107 )
Para santri disamping berkewajiban mempelajari, mendalami ilmu ilmu agama Islam di pondok pesantren, juga harus mempersiapkan diri dengan berbagai bekal ilmu pengetahuan agama dan metode dakwahnya, agar kelak ketika kembali ke mamasyarakat dapat lebih berkiprah secara maksimal dalam tugas mendakwahkan ajaran agma Islam. Hal ini sesuai denga firman Allah SWT dalam surat at Taubah ayat 122:
وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون.
Mempertimbangkan kenyataan ini, pengembangan dan penguasaan sainsteknologi di Indonesia seyogyanya berlandaskan pada wawasan moral dan etis, Indonesia mempunyai sejumlah modal dasar yang memadai untuk mewujudkan cita-cita ini. Diantara modal dasar terpenting adalah kenyataan bahwa rakyak dan bangsa Indonesia adalah umat yang agamis, yang sangat menghormati ajaranajaran agama.
Untuk dapat menyampaikan risalah Allah di tengah-tengah masyarakat yang berperadaban maju terus berkembang, seorang pendakwah tidak cukup hanya berbekal ilmu-ilmu agama, teapi juga diperlikan strrategi dan metode yang memadai. Oleh karena itu, memiliki pengalaman berorganissasi bagi para santri menjadi sangat penting. Menyadari pentingnay pengalaman berorganisasi, maka para santri seharusnya menjadikan organisasi santri sebagai wahan berlatih dalam menempa dan membina diri, agar kelap tidak gagap dan canggung dalam menhadapi dinamaika masyarakat.
Dengan demikian, maka berorganisasi menjadi wajib bagi para santri, jika dikaitkan dengan qaidah fiqh yang menyatkan bahwa:
مالا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Risalah Isalm akan sulit mencapai pada sasarannya tanpa adanya organisasi yang baik, rapi dan teratur. Untuk keeberhasilan dakwah, amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap masyarakat, umat Islam perlu dan harus memiliki organisasi yang baik dan yang kuat. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
Sebuah organisasi yang telah dibentuk dengan maksud dan tujuan yang mulia, namun organisasi tersebut tidak terorganisir denga baik dan rapi, mak akan mudah terkalahkan oleh sebuah kebatilan yang terorganisir denga baik. Hal sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib:
الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام
Memang sebuah komunitas yang terorganisir dengan baik akan banyak menghasilkan manfaat walaupun komunitas tersebut terdiri dari beberapa anggota saja, hal ini jika dibandingkan dengan sebuah komunitas yang terdiri dari banyak orang akan tetapi bercerai berai dan tidak terorganisir.
قليل إذا شدوا خير من كثير إذا انفضوا
Selanjutny Allah SWT juga berfirman:
إن الله يحب الذين يقاتلون فى سبيله صفا كأنهم بنيان مرصوص
Berangkat dari pemikiran tentang perlunya sebuah pengalaman organisasi, serta menyadari bahwa dinamika kehidupan masyarakat terus meningkat, tuntutan masyarakatpun selalu berkembang, maka seharusnya para santri terus berupaya dan berusaha membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dengan berbagai metode dakwah, serta dengan pengalaman organisasi, sehinnga pemikiran, keterampilan, dan kematangan berfikir para santri bisa mengiiringi dinamika kehidupan dan kemajuan masyarakat, dan yang paling utama adalah kegiatan dakwahnya bisa diterima masyarakat.
Peningkatan antusiasme keberagamaan itu pada gilirannya juga menimbulkan perkembangan-perkembangan baru pula terhadap pondok pesantren, selama ini pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam yang telah turut membina dan mengembangkan SDM untuk mencapai keunggulan (excellence), meski selama ini dapat dikatakan relative “terbatas” pada bidang sosial keagamaan. Sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren sepanjang sejarahnya telah berperan besar dalam upaya-upaya meningkatkan kecerdasan dan martabat manusia. (Azra, 2000:47)
Sejak zaman penjajah, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, eksistensinya telah mendapat pengakuan masyarakat. Ikut terlibat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi moril, namun telah pula ikut serta memberikan sumbangsih yang cukup signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagai pusat pengajaran ilmu-ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin)telah banyak melahirkan ulama, tokoh masyarakat, muballigh, guru agama yang sangat dibutuhkan masyarakat. Hingga kini pondok pesantren tetap konsisten melaksanakan fungsinya dengan baik, bahkan sebagian telah mengembangkan fungsinya dan perannya sebagai pusat pengembangan masyarakat. (Depag RI, 2003a:1)
Tugas pokok yang dipikul pondok pesanten selama ini pada esensinya adalah mewujudkan manusia dan masyarakat muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, dalam kaitan ini secara lebih khusus lagi, pondok pesantren bahkan diharapkan berfungsi lebih dari pada itu; ia diharapkan agar memikul tugas yang tak kalah pentingnya, yakni melakukan reproduksi ulama’. Dengan kualitas keislaman, keimanan, keilmuan dan akhlaknya, para santri diharapkan mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya. Di sini, para santri diharapkan dapat memainkan fungsi ulama; dan pengakuan terhadap keulamaan mereka biasanya pelan-pelan tapi pasti datang dari masyarakat. Selain itu juga pondok pesantren juga bertujuan untuk menciptakan manusia Muslim mandiri-dan ini kultur pondok pesantren yang cukup menonjol yang mempunyai swakarya dan swadaya.
Dalam menghadapi era globalisasi dan informasi pondok pesantren perlu meningkatkan peranannya karena Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sebagai agama yang berlaku seantero dunia sepanjang masa. Ini berarti ajaran Islam adalah global dan melakukan globalisasi untuk semua. (surat al-Hujurat:13) kunci dari ayat diatas yakni setiap persaingan yang keluar sebagai pemenang adalah yang berkualitas, yaitu memiliki iman-takwa, kemampuan, ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan (Rahim, 2001:160). Disinilah peran pondok pesantren perlu ditingkatkan, tuntutan globalisasi tidak mungkin dihindari. Maka salah satu langkah bijak, kalau tidak mau dalam persaingan, adalah mempersiapkan pondok pesantren agar “tidak ketinggalan kereta”.
Azyumardi Azra (2000:48) mengatakan dengan demikian, keunggulan SDM yang ingin dicapai pondok pesantren adalah terwujudnya generasi muda yang berkualitas tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik. Tetapi, memandang tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa dan upaya dalam penguasaan sains-teknologi untuk turut memelihara momentum pembangunan, muncul pemikiran dan gagasan untuk mengembangkan pondok pesantren sekaligus sebagai wahana untuk menanamkan apresiasi, dan bahkan bibit-bibit keahlian dalam bidang sains-teknologi. Selain itu, pengembangan pesantren kearah ini tidak hanya akan menciptakan interaksi dan integrasi keilmuan yang lebih intens dan lebih padu antara “ilmu-ilmu agama” dengan “ilmu-ilmu umum”, termasuk yang berkaitan dengan sains-teknologi. Dalam kerangka ini, SDM yang dihasilkan pondok pesantren diharapkan tidak hanya mempunyai perspektif keilmuan yang lebih integrative dan komprehensif antara bidang ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu keduniaan tetapi juga memiliki kemampuan teoritis dan praktis tertentu yang diperlukan dalam masa industri dan pasca industri.
Berkaitan dengan hal tersebut, Mulyasa (2002:vi) mengatakan bahwa peserta didik (santri) harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman dan reformasi yang sedang bergulir, guna menjawab tantangan globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.
Tantangan globalisasi pada satu pihak, dan kebutuhan menciptakan SDM unggul khususnya dalam sains dan teknologi sehingga mampu mendapatkan tempatnya dalam perkembangan dewasa ini dan masa mendatang di pihak lain, sesungguhnya menempatkan pondok pesantren ke dalam dilema yang sulit.
Permasalahan seputar pengembangan model pendidikan pondok pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia (human resources) merupakan isu aktual dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer. Maraknya perbincangan mengenai isu tersebut tidak bisa dilepaskan dari realitas empirik keberadaan pesantren dewasa ini kurang mampu mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya. Setidaknya terdapat dua potensi besar yang dimiliki pesantren yaitu potensi pendidikan dan pengembangan masyarakat.
Khusus dalam bidang pendidikan, misalnya, pesantren dapat dikatakan kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan out put (santri) yang memiliki kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal terjun kedalam kehidupan sosial yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecangihan sains dan teknologi. Kegagalan pendidikan pesantren dalam melahirkan sumberdaya santri yang memiliki kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu keislaman dan penguasaan teknologi secara sinergis berimplikasi terhadap kemacetan potensi pesantren kapasitasnya sebagai salah satu agents of social change dalam berpartisipasi mendukung proses transformasi sosial bangsa. (Masyhud, 2003: 17).
Di kalangan pondok pesantren sendiri, setidaknya sejak dasawarsa terakhir telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna meningkatkan kualitas SDM yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial (pembangunan). Dari sinilah timbul berbagai model pengembangan SDM, baik dalam bentuk perubahan “kurikulum” pondok pesantren yang lebih berorientasi kepada “kekinian”, atau dalam bentuk kelembagaan baru semacam “pesantren agribisnis”, atau sekolah-sekolah umum di lingkungan pondok pesantren, dan Bahkan di beberapa pondok pesantren telah mengadopsi dengan teknologi maju, sudah mengajarkan berbagai macam teknologi yang berbasis keahlian dan pendidikan ketrampilan yang mengarah pada pendidikan profesi.
Penekanan pada bidang ketrampilan ini pondok pesantren semakin dituntut untuk self supporting dan self financing. Karena itu banyak pondok pesantren di antaranya seperti di pondok pesantren Sunan Drajat Lamongan mengarahkan para santrinya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan vocational dalam usaha-usaha agribisnis yang mencakup pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, kehutanan pengembangan industri dan sebagainya. Bahkan pondok pesantren Sunan Drajat memiliki beberapa unit usaha sebagai wahana pembelajaran ketrampilan Melalui kegiatan ketrampilan ini minat kewirausahaan para santri dibangkitkan, untuk kemudian diarahkan menuju pengembangan pengelolaan usaha-usaha ekonomi bila sang santri kembali ke masyarakat.
A. Pengertian Pondok Pesantren
Pondok pesantren adalah salah satu pendidikan Islam di Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Definisi pesantren sendiri mempunyai pengertian yang bervariasi, tetapi pada hakekatnya mengandung pengertian yang sama. Perkataan pesantren berasal dari bahasa sansekerta yang memperoleh wujud dan pengertian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Asal kata san berarti orang baik (laki-laki) disambung tra berarti suka menolong, santra berarti orang baik baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik (Abdullah, 1983:328)
Sementara itu HA Timur Jailani (1982:51) memberikan batasan pesantren adalah gabungan dari berbagai kata pondok dan pesantren, istilah pesantren diangkat dari kata santri yang berarti murid atau santri yang berarti huruf sebab dalam pesantren inilah mula-mula santri mengenal huruf, sedang istilah pondok berasal dari kata funduk (dalam bahasa Arab) mempunyai arti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi pondok di Indonesia khususnya di pulau jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri.
Selanjutnya Zamaksari Dhofir (1982:18) memberikan batasan tentang pondok pesantren yakni sebagai asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal terbuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata funduk atau berarti hotel atau asrama. Perkataan pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.
Secara umum pesantren memiliki komponen-komponen kiai, santri, masjid, pondok dann kitab kuning. Berikut ini pengertian dan fungsi masing-masing komponen. Sekaligus menunjukkan serta membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu:
a. Pondok
Merupakan tempat tinggal kiai bersama para santrinya. Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren juga menampung santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh untuk bermukim. Pada awalnya pondok tersebut bukan semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, untuk mengikuti dengan baik pelajaran yang diberikan oleh kiai, tetapi juga sebagai tempat latihan bagi santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat. Para santri dibawah bimbingan kiai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dalam situasi kekeluargaan dan bergotong royong sesame warga pesantren. Perkembangan selanjutnya, pada masa sekarang pondok tampaknya lebih menonjol fungsinya sebagai tempat pemondokan atau asrama, dan setiap santri dikenakan sewa atau iuran untuk pemeliharaan pondok tersebut.
b. Masjid
Dalam konteks ini, masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Masjid yang merupakan unsure pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaah setiap waktu sholat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Biasanya waktu belajar mengajar berkaitan dengan waktu shalat berjamaah, baik sebelum maupun sesudahnya. Dalam perkembangannya, sesuai dengan perkembangan jumlah santri dan tingkatan pelajaran, dibangun tempat atau ruangan-ruangan khusus untuk halaqah-halaqah. Perkembangan terakhir menunjukkan adanya ruangan-ruangan yang berupa kelas-kelas sebagaimana yang terdapat pada madrasahmadrash. Namun demikian, masjid masih tetap digunakan sebagai tempat belajar mengajar. Pada sebagian pesantren masjid juga berfungsi sebagai tempat I’tikaf dan melaksanakan latihan-latihan dan dzikir, maupun amalan-amalan lainnya dalam kehidupan tarekat dan sufi (Dhofir, 1982:136)
c. Santri
Santri merupakan unsure pokok dari suatu pesantren, tentang santri ini biasanya terdiri dari dua kelompok :
1. Santri mukim; ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
2. Santri kalong; ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.
d. Kiai
Adanya kiai dalam pesantren merupakan hal yang mutlak bagi sebuah pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang memberikan pengajaran, karena kiai menjadi salah satu unsure yang paling dominant dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak bergantung pada keahliah dan kedalaman ilmu, kharismatik, wibawa dan ketrampilan kiai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Gelar kiai biasanya diberikan oleh masyarakat kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan mendalam tentang agama Islam dan memiliki serta memimpin pondok pesantren, serta mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santri.
e. Kitab-kitab Islam klasik
Unsur pokok lain yang cukup membedakan peantren dengan lembaga lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab Islamklasik atau yang sekarang terkenal dengan sebutan kitab kuning, yang dikarang oleh para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab tentang berbagai ilmu yang mendalam. Tingkatan suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya diketahui dari jenis-jenis kitab-kitab yang diajarkan. (Hasbullah, 1999a:142-145)
B. Tipologi Pondok Pesantren
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, tertama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan bentuk pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang kekhasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat.
Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat, yang meliputi:
1. Pondok pesantren tradisional
Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang di tulis oleh ulama’ pada abad ke 15 dengan menggunakan bahasa arab. Pola pengajarannya dengan menerapakan sisitem “halaqah” yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekat dari sistem pengajaran halaqah adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu itu tidak berkembang kearah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang di berikan oleh kyainya. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kyai pengasuh pondoknya. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalog.
2. Pondok pesantren modern
Pondok pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren karena orietasi belajaranny cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan system belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nempak pada bangunan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasa maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa itu. Kedudukan para kyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar langsung di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.
3. Pondok pesantren komprehensif
Sistem pesantren inindisebut komprehensif merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan watonan, namun secara reguler sistem pesekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan ketrampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua (Ghazali, 3003:15)

C. Metode Pembelajaran
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren sebagaimana yang dituangkan dalam ciri-ciri (karakteristik) pondok pesantren yang diutarakan terdahulu. Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok pesantren ang ada, maka ada beberapa metode pembelajaran pondok pesantren :
1. Metode pembelajaran yang bersifat tradisional
Metode tradisional adalah berangkat dari pola pelajaran yang sangat sederhana dan sejak semula timbulnya, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan dan wetonan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama’ pada zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah “kitab kuning”.
a. Metode sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa) yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kiai atau pembantunya (badal, asisten kiyai). System sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. System sorogan ini
terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercitacita menjadi alim. System ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran. Sorogan merupakan kegiatan pembelajaran bagi para santri yang lebih menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perorangan (individual), di bawah bimbingan seorang kiyai atau ustadz. (Depag, 2003a:38). Pelaksanaannya, santri yang banyak itu datang bersama, kemudian mereka antri menunggu giliran masing-masing, dengan system pengajaran secara sorogan ini memungkinkan hubungan kiai dengan santri sangat dekat, sebab kiai dapat mengenal kemampuan pribadi santri secara satu satu persatu. Kitab yang disorogkan kepada kiai oleh santri yangsatu dengan santri yang lain tidak harus sama.(Hasbullah, 1999b:50-51).
b. Metode wetonan/bandongan
Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardu (Depag, 2003a:39). Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat cacatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat di sebut dengan bandongan. Tetapi sekarang ini banyak pesantren telah menggunakan metode pengajaran dengan memadukan antara model yang lama dengan model pengajaran yang modern yaitu dengan memadukan metode klasikal yang bertingkat.
2. Metode pembelajaran yang bersifat modern
Di dalam perkembangannya pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pola pembelajaran diatas, melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu system. Salafiah, maka gerakan Khalafiah telah memasuki derap perkembangan pondok pesantren. Ada beberapa metode yang diterapkan, antara lain :
a. Klasikal
Pola penerapan system klasikal ini adalah dengan pendirian sekolah-sekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama atau ilmu yang dimasukkan dalam katagori umum dalam arti termasuk di dalam disiplin ilmuilmu kauni (“Ijtihadi – hasil perolehan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya “tauqili“(dalam arti kata langsung diterapkan bentuk dan wujud ajarannya). Kedua disiplin ilmu di dalam system persekolahan diajarkan berdasarkan kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan.
b. Kursus-kursus
Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (takhassus) ini ditekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa inggris, disamping itu diadakan keterampilan tanggan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti, kursus menjahit, mengetik komputer, dan sablon. Pengajaran system ini mengarah pada terbentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang tuntut dari Kyai melalui pelajaran sorogan, wetonan. Sebab pada umumnya santri tidak tergantung pada pekerjaan dimasa mendatang melainkan harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.
c. Pelatihan
Di samping sitem pengajaran klasikal dan kursus-kursus, dilaksanakan juga system pelatihan yang menekankan pada kemampuan psikomotorik. Pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk menumbuhkan kemampuan praktis seperti, pelatihan pertukangan, perkebunan, perikanan, manajemen koperasi, dan kerajinan-kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian intergratif. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan yang lain yang cenderung lahirnya santri intelek dan ulama yang mumpuni.

D. Dinamika Perkembangan Pondok Pesantren
Pesantren, jika di sandingkan dengan lembaga pendidikn yang pernah muncul di Indonesia, merupakan system pendidikan tertua saat ini dan di anggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous. Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama Islam yang di mulai sejak munculnya masyarakat Islam di nusantara pada abad ke-13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian (“nggon ngaji”). Bentuk ini berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi par pelajar (santri), yang kemudian di sebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang berstruktur, sehingga pendidikan ini di anggap sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan kaegaman.
Ciri umum yang dapat di ketahui adalah pesantren memiliki kultur khas yang berbeda dengan budaya sekitarnya.beberapa peneliti menyebut sebagai sebuah sub-kultur yang bersifat idiosyncratic. Cara pengajaranya pun unik. Sang Kyai, yang biasanya pendiri sekaligus pemilik pesantren, membacakan manuskrip-manuskrip keagamaan klasik berbahasa Arab (di kenal denga sebutan “kitab kuning”), sementara santri mendengarkan sambil memberi catatan (ngesahi, jawa) pada kitab yang sedang dibaca Metode ini di sebut bandongan atau layanan kolektif (collectife learning process). Selain itu, para santri di tugaskan membaca kitab, sementara kiyai atau ustadz yang suda mumpuni menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaan dan performance seorang santri. Metode ini di kenal dengan istila sorogan atau layanan individu (individu learning process).kegiatan belajar mengajar di atas berlangsung tanpa penjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya dengan memisahkan jenis kelamin siswa.
Baru memasuki era 1970-an pesantren pengalami perkembangan signifikan. perubahan dan perkembangan itu bisa di tilik dari dua sudut pandang.
Pertama, pesantren mengalami perkembangan kuantitas luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah rural (pedesaan), sub-urban (pinggiran kota), maupun urban (perkotaan). Data Departemen agama menyebutkan pada 1977 jumlah pesantren masih sekitar 4.195 buah dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan berarti pada tahun 1985, di mana pesantren berjumlah sekitar 6.239 buah dengan jumlah santri sekitar 1.084.801 orang. Dua dasawarsa kemudian 1997, Depag mencatat jumlah pesantren sudah mencapai kenaikan mencapai 224% atau 9.388 buah dan kenaikan jumlah santri mencapai 261% atau 1.770.768 orang. Data terakhir Depag tahun 2001 menunjukan jumlah pesantren seluruh Indonesia sudah mencapai 11.312 buah dengan santri sebanyak 2.737.805 orang. Jumlah ini meliputi pesantraen salafiyah, tradisional sampai modern. (Masyhud, 2003: 4)
Kedua, perkembangan ini menyangkut penyelenggaraan pendidikan, sejak tahun 1970-an bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan di pesantren sudah variasi, bentuk-bentuk pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe yaitu :
1. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PT Agama Islam) maupun juga memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMA dan PT Umum).
2. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum m,eski tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Gontor
3. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madarasah Diniyah, seperti pesantren Langitan Tuban, pesantren Lirboyo Kediri.
4. Pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian. Sejalan dengan kecenderungan deregulasi di bidang pendidikan, penyeretan pendidikan juga di arahkan kepada pesantren.jika pada masa lalu (orde baru) tidak ada satupun pendidikan pesantren (terutama tipe kedua) yang mendapatkan status (sertifikasi), saat ini sudah dua pesantren yang telah mendapatkan (disamakan dengan pendidikan umum), yakni pesantren Gontor (Ponorogo), dan pesantren Al-Amin (Madura). Sedangkan pesantren tipe ketiga atau dikenal dengan “Pesantren Salafiyah” telah memperoleh penyetaraan melalui SKB dua menteri (Menag dan Mendiknas) No. 1/U/KB/2000 dan No. MA/86/2000, tertanggal 30 Maret 2000. SKB ini memberikan kesempatan kepada pesantren salafiyah untuk ikut menyelengarakan pendidikan dasar sebagai upaya mempercepat pelaksanaan program wajib belajar,dengan persyaratan penambahan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA dalam kurikulumnya. SKB memiliki implikasi yang sangat besar, karena dengan demikian eksistensi pendidikan pesantren tipe ketiga tetap terjaga, dan bahkan dapat memenuhi ketentuan sebagai pelaksana wajib belajar pendidikan dasar.
Pendidikan pesantren juga dapat dikatakan sebagai modal sosial dan bahkan soko guru bagi perkembangan pendidikan nasional di Indonesia. Karena pendidikan pesantren yang berkembang sampai saat ini dengan berbagai ragam modelnya senantiasa selaras dengan jiwa, semangat, dan kepribadian bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Maka dari itu, sudah sewajarnya apabila perkembangan dan pengembangan pendidikan pesantren akan memperkuat karakter sosial system pendidikan nasional yang turut membantu melahirkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang memiliki kehandalan penguasaan pengetahuan dan kecakapan teknologi yang senantiasa dijiwai nilai-nilai luhur keagamaan. Pada akhirnya, sumber daya manusia yang dilahirkan dari pendidikan pesantren ini secara ideal dan praktis dapat berperan dalam setiap proses perubahan sosial menuju terwujudnya tatanan kehidupan masyarakat yang paripurna. (Masyhud, 2003:9)
Salah satu sektor penting dalam pembangunan sosial yang mendapatkan perhatian serius hampir dalam setiap proses pelaksanaan pembangunan adalah aspek pendidikan. Bidang pendidikan itu sendiri telah menjadi pilar utama penyangga keberhasilan pelaksanaan pembangunan sosial. Hampir bisa dipastikan, suatu daerah yang masyarakatnya memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki tingkat keberhasilan pembangunan yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan daerah yang rata-rata tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah.

D. Analisa Terhadap Model Pendidikan Pesantren Masa Depan
Pada era otonomi daerah sekarang ini, keberadaan pesantren kembali menemukan momentum relevansinya yang cukup besar untuk memainkan kiprahnya sebagai elemen penting dalam proses pembangunan sosial. Terlebih lagi otonomi mengandalkan kemandirian tiap-tiap daerah dalam mengatur rumah tangga daerahnya sendiri berdasarkan kemampuan swadaya daerah tersebut tanpa adanya campur tangan pemerintah pusat yang cukup besar. Keberadaan pesantren menjadi petner yang ideal bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan yang ada di daerah sebagai basis bagi pelaksanaan Transformasi sosial melalui penyediaan sumber daya manusia yang qualified dan berakhlakul karimah. Terlebih lagi, proses transformasi sosial di era otonomi mensyaratkan daerah lebih peka menggali potensi lokal dan kebutuhan masyarakatnya sehingga kemampuan yang ada dalam masyarakat dapat dioptimalkan.
Untuk dapat memainkan peran edukatifnya dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas mensyaratkan pesantren harus meningkatkan mutu sekaligus memperbaruhi model pendidikannya. Sebab, model pendidikan pesantren yang mendasarkan diri pada system konvensional atau klasik tidak akan banyak cukup membantu dalam penyediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi integratif baik dalam penguasaan pengetahuan agama, pengetahuan umum dan kecakapan teknologis. Padahal ketiga elemen ini merupakan prasyarat yang tidak bias diabaikan untuk konteks perubahan social akibat modernisasi. Seperti sekilas diungkapkan dalam latar belakang masalah, tanpaknya tipe ideal model pendidikan pondok pesantren yang dapat dikembangkan saat sekarang ini adalah tipe integrasi antara system pendidik klasik dan system pendidikan modern. Pengembangan tipe ideal ini tidak akan merubah total wajah dan keunikan system pendidikan pesantren menjadi sebuah model pendidikan umum yang cenderung reduksionistik terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam sitem pendidikan pondok pesantren.
Sementara itu tidak semua pesantren melalukan pengembangan system pendidikannya dengan cara memperluas cakupan wilayah garapannya dan memperbaruhi model pendidikannya. Masih banyak pesantren yang mempertahankan system pendidikan tradisional dan konfensional dengan membatasi diri pada pengajaran kitab-kitab klasik dan membina moral keagamaan semata. Pesantren model pure klasik atau salafi ini memang unggul dalam melahirkan santri yang memiliki keshalehan, kemandirian (dalam arti tidak terlalu tergantung kepada peluang kerja di pemerintahan) dan kecakapan dalam penguasaan ilmu-ilmu kaislaman. Kelemahannya, out put pendidikan pure salaf kurang kompetitif dalam percaturan persaingan kehidupan modern. Padahal, tuntutan kehidupan global menghendaki kualitas sumberdaya manusia terdidik dan keahlian dalam bidangnya. Realitas out put pesantren yang memiliki sumberdaya manusia kurang kompetitif inilah yang kerap menjadikannya termarginalisasi dan kalah bersaing dengan out put pendidikan formal baik agama maupun umum.
Penyebaran yang luas dengan keragaman karakteristik yang dimiliki pesantren saat ini di semua wilayah Indonesia menjadi potensi luar biasa dalam percepatan pembangunan di daerah-daerah. Jika upaya maksimal ini dilakukan oleh pemerintah (pusat maupun daerah) secara tepat bukan tidak mungkin kedepan akan menjadi “lahan subur” penyemaian bibit-bibit unggul manusia Indonesia.
Pelibatan institusi pes antren dalam akselerasi pendidikan maupun pengembangan masyarakat bukan saja signifikan, tetapi sekaligus strategis bukan hanya karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat di masyarakat, tetapi juga mayoritas Madrasah berstatus swasta (95% dari total jumlah Madrasah), dan sebagian diantaranya berada di pesantren. Sebagai institusi yang menempati posisi penting di masyarakat, pesantren diharapkan mampu memberikan stimulasi dan pengaruh kepada masyarakat tentang makna pendidikan. Tambahan lagi, saat ini ada kencenderungan kuat di kalangan keluarga muslim untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren, baik karena alasan relegius ataupun lingkungan social dan budaya. Fenomena ini satu sisi menunjukkan bahwa lembaga pendidikan pesantren tengah mengalami semacam “kebangkitan”, atau setidaknya menemukan “popularitas” baru. Hal ini menjadi indikasi lebih lanjut tentang kerinduan dan harapan (expectation) orang tua-orang tua muslim untuk mendapat pendidikan Islam yang baik, sekaligus kompetitif, bagi anak-anak mereka. Namun sebaliknya, boleh jadi fenomena ini menjadi indikasi “kepasrahan” orang tua muslim terutama di wilayah urban – yang merasa “tidak mampu” lagi mendidik anak-anak mereka secara islami atau “tidak yakin” bahwa anak-anak mereka mendapatkan pendidikan agama yang memadahi dari sekolah-sekolah umum. Jika melihat keadaan diatas tampaknya akselerasi pendidikan dan pengembangan masyarakat di pesantren optimis bisa berjalan.
Dengan anggapan bahwa tidak semua lulusan pondok pesantren akan menjadi ulama atau kyai, dan memilih lapangan pekerjaan di bidang agama, maka keahlian-keahlian lain seperti pendidikan ketrampilan perlu diberikan kepada santri sebelum santri itu terjun ke tengah-tengah masyarakat sebenarnya. Di pihak lain, guna menunjang suksesnya pembangunan, diperlukan partisipasi semua pihak, termasuk pihak pondok pesantren sebagai suatu lembaga yang cukup berpengaruh di tengah-tengah masyarakat ini merupakan potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren secara histories dan tradisi. Perkenalan dan persentuhan dunia pondok pesantren dengan berbagai bidang ketrampilan dan usaha pemberdayaan masyarakat sangatlah strategis. Kegiatan pondok pesantren dan dimulai dengan :
1. Perencanaan (menumbuhkan gagasan, menetapkan tujuan, mencari data dan informasi, merumuskan kegiatan-kegiatan usaha dalam mencapai tujuan sesuai dengan potensi yang ada, melakukan analisis SWOT, memusyawarahkan).
2. Pemelihan jenis usaha dan macam usaha. Dalam menentukan ini kegiatan yang dilakukan meliputi;
a. Luas lahan yang dimiliki oleh pondok pesantren
b. Sumber daya manusia
c. Tersedianya sarana peralatan dan bahan baku yang ada di pondok pesantren
d. kemungkinan pemasarannya. Ini erat kaitannya dengan potensi permintaan masyarakat terhadap jenis produksi, barang atau bahkan jasa tertentu.
Atas dasar tersebut dilakukan pemilihan terhadap jenis-jenis dan macam usaha yang dapat didirikan di pondok pesantren , seperti: bidang perdagangan, bidang pertanian dan agribisnis, bidang industri kecil, bidang elektronika dan perbengkelan, bidang pertukangan kayu, bidang jasa, bidang koperasi, bidang pengembangan teknologi tepat guna, dan lain-lain